Monday, August 23, 2010

BALI INDONESIA

Bahasa Bali 
adalah sebuah bahasa Austronesia dari cabang Sundik dan lebih khusus dari anak cabang Bali-Sasak. Di Bali sendiri Bahasa Bali mempunyai tingkatan penggunaannya, misalnya ada yang disebut Bali Alus, Bali Madya, dan Bali Kasar. Yang halus dipergunakan untuk bertutur formal misalnya dalam pertemuan di tingkat desa adat, meminang wanita, atau antara orang berkasta rendah dengan berkasta lebih tinggi. Yang madya dipergunakan di tingkat masyarakat menengah misalnya pejabat dengan bawahannya, sedangkan yang kasar dipergunakan bertutur oleh orang kelas rendah misalnya kaum sudra atau antara bangsawan dengan abdi dalemnya

Makanan khas bali  
  

Lawar
  
merupakan makanan yang sangat terkenal yang merupakan kuliner khas Bali. Untuk membuatnya kita boleh menggunakan daging atau ayam untuk membuat lawar kita juga boleh menggunakan betik yang masih muda



Pakaian Adat Bali  
Kemben merupakan jenis pakaian, berupa kain tuala badan, yang menjadi bentuk dan model asas busana tradisional Bali, baik untuk lelaki mahupun wanita, dari segala jenis usia, maupun dari kasta, Walaupun demikian pada situasi-situasi tertentu mereka acap menggunakan kancrik atau tengkulukKancrik adalah sehelai selendang yang berfungsi sebagai penutup tubuh atau saput, yang terkadang digunakan untuk menjunjung beban sekaligus melindungi wajah dari sinar matahari. Kancrik juga digunakan sebagai tengkuluk, iaitu penutup kepala wanita Bali yang juga berfungsi sebagai tapak Penjunjung beban - selain kegunaannya sebagai alat untuk menahan rambut agar tetap rapi. Sementara anteng adalah sehelai kain atau kancrik yang berfungsi sebagai penutup buah dada. Kemben, sabuk, saput dan anteng, serta tengkuluk untuk kepala merupakan pakaian wanita Bali dalam keseharian. Pakaian untuk lelaki secara lengkap adalah destar, saput dan kemben

Upacara Kematian Bali
  
Upacara Ngaben atau sering pula disebut upacara pelebon kepada orang yang meninggal dunia, dianggap sangat penting, ramai dan semarak, kerana dengan upacara ngabenan itu keluarga dapat membebaskan arwah orang yang meninggal dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga, atau menjelma kembali ke dunia melalui reinkarnasi bergantung dari karmaphala selama masih hidup .. Karena upacara ini memerlukan tenaga, kos dan masa yang panjang dan besar, hal ini sering dilakukan begitu lama selepas kematian. Untuk menanggung beban kos, tenaga dan lain-lain, kini masyarakat sering melakukan pengabenan secara massal / bersama. Jasad orang yang meninggal sering dikebumikan terlebih dahulu sebelum bayaran mencukupi, namun bagi beberapa keluarga yang mampu upacara Ngaben dapat dilakukan secepatnya dengan menyimpan jasad orang yang telah meninggal dunia di rumah, sambil menunggu waktu yang baik menurut kalendar Bali. Selama masa simpanan di rumah itu, roh orang yang meninggal menjadi tidak tenang dan selalu ingin kebebasan. Hari baik biasanya diberikan oleh para pendeta setelah melalui perundingan dan kalendar yang ada. Persiapan biasanya diambil jauh-jauh sebelum hari baik ditetapkan. Pada saat inilah keluarga mempersiapkan "bade dan lembu" terbuat dari buluh, kayu, kertas yang berlainan warna-warni sesuai dengan golongan atau kedudukan sosial ekonomi keluarga bersangkutan. Pagi hari sebelum upacara Ngaben bermula, segenap keluarga dan handai taulan datang untuk melakukan penghormatan terakhir dan biasanya dihidangkan sekadar makan dan minum. Pada tengah hari, jasad dibersihkan dan dibawa ke luar rumah diletakkan di Bade atau lembu yang disiapkan oleh para warga Banjar, lalu diusung beramai-ramai, semarak, disertai suara gaduh gambelan dan "kidung" menuju ke tempat upacara. Bade (tempat menaruh jasad) diarak dan berputar-putar dengan maksud agar roh orang yang meningal itu menjadi bingung dan tidak dapat kembali ke keluarga yang boleh menyebabkan gangguan, dll. Sesampainya di tempat upacara, jasad ditaruh di belakang lembu, paderi mengujar mantra - mantra secukupnya, kemudian menyalakan api perdana pada jasad. Setelah semuanya menjadi abu, upacara seterusnya dilakukan iaitu membuang abu tersebut ke sungai atau laut terdekat lalu dibuang, dikembalikan ke air dan angin. Ini merupakan rangkaian upacara akhir atas badan kasar orang yang meninggal, kemudian keluarga dapat dengan tenang hati menghormati arwah tersebut di pura keluarga, setelah sekian lama, arwah tersebut diyakini akan kembali lagi ke dunia. Status kelahiran kembali roh orang yang meninggal dunia berkaitan rapat dengan karma dan perbuatan serta tingkah laku selama hidup dahulu.

No comments:

Post a Comment